Kamis, 21 April 2016

Millennials: Generasi yang Malas dan Narsis?

Millennials: Generasi yang malas dan narsis


Millennials: Generasi Yang Malas dan Narsis? 

Anak muda zaman sekarang sifatnya malas dan narsis, kerjanya online teruuusss’.  

Mungkin ungkapan-ungkapan seperti itu bukan hanya satu-dua kali kita dengar dari generasi-generasi yang lebih tua. Apakah benar demikian?




Faktanya lebih dari 63% pekerja dari generasi millennial memiliki latar belakang pendidikan sarjana (S-1). Rata-rata mereka berusia antara 18-29 tahun, setengahnya bekerja paruh waktu (sambil kuliah). 

Sebagian besar dari mereka memiliki target untuk bekerja hanya sekitar 5 tahun ke depan untuk mengumpulkan modal yang cukup untuk memulai usaha sendiri

Sementara itu, anak-anak muda yang berstatus freelancer cenderung lebih memilih untuk membangun ‘start-up’ mereka sendiri dari pada mengikuti dan menyelesaikan jalur pendidikan formal hingga jenjang profesi (S-2).


Generasi Millennial Memiliki Pola Pikir Yang Berbeda

Lalu kenapa mayoritas generasi X memiliki pandangan yang buruk tentang millennials

Mungkin karena memang millennials memiliki konsep kerja dan pola pikir yang berbeda. 

Generasi X mungkin terbiasa dengan budaya perusahaan yang kaku dan formal, mengenakan setelan blazer, dasi dan cara komunikasi yang baku. Sementara millennials berpikir ‘apa salahnya ngantor pake jeans dan kaos?’; ‘bukankah meeting bisa dilaksanakan lewat Skype?’; ‘aku ingin waktu kerja yang flexible!’ 

"Apa salahnya ngantor pake jeans dan kaos?  Tweet this!



Millennials: Generasi yang malas dan narsis?


Millennials: Generasi Yang Malas?

Sebenarnya generasi millennial bukan malas, kita memang senang memanfaatkan teknologi semaksimal mungkin.  




"Kalau bisa menggunakan sistem ‘sharing’ yang terintegrasi antar departemen kenapa harus saling kirim dokumen yang di-print secara manual dan di-copy untuk pegangan setiap departemen?"

Teknologi membuat kita lebih efisien dan hemat kertas. Menggunakan sinkronisasi dengan rekan-rekan kerja satu departemen akan mempermudah membuat jadwal di kalender bersama, tidak ada lagi jadwal yang bentrok ataupun salah info. Media sosial juga bisa diberdayakan untuk saling berbagi informasi seputar pekerjaan secara realtime dan fun. Intinya teknologi hadir untuk memudahkan dan memberi efisiensi waktu

Kita para Millennials adalah generasi yang menjunjung tinggi keseimbangan antara bekerja dan bermain, meski sulit dipungkiri sering kali kita berusaha mengubahnya untuk lebih condong ke arah bermain. 

Karena apalah artinya hidup ini bila seluruh waktu kita habis hanya untuk bekerja.

Pola pikir 'muda kerja keras, tua menikmati' sepertinya tidak lagi cocok untuk generasi Y yang enerjik dan eager to act.

Karena lebih cepat, lebih baik. Anak-anak muda zaman sekarang akan lebih suka apabila diizinkan untuk pulang lebih cepat apabila tugas-tugasnya sudah selesai. Terlebih lagi bila diizinkan untuk mengerjakan tugas-tugasnya tanpa harus masuk kantor.

Menjadi Digital Nomad adalah impian para anak muda masa kini, bisa bebas bekerja di manapun, sambil  nongkrong di cafe favorit atau bahkan sambil traveling ke negara-negara lain.

Work Easy, Play Hard!
 

Millennials: Generasi yang malas dan narsis?


Millennials: Generasi Yang Narsis?

Mengenai ‘Narsis’, memang kita paham mengapa Gen X’ers risih melihat tingkah laku anak muda di dunia kerja. 

Pada masa mereka, evaluasi merupakan suatu momok menakutkan, evaluasi juga biasa hanya dilakukan satu-dua kali sepanjang tahun. Namun berbeda dengan millennials, generasi muda ini ingin dievaluasi setiap saat hasil kerjanya, diapresiasi dan disebarluaskan kepada seisi perusahaan bila perlu ke seluruh dunia. 

Haha, memang sedikit berlebihan, tetapi itulah ciri khas generasi millennial, mereka cenderung bekerja bukan karena dorongan gaji (uang) semata, mereka juga menginginkan pengakuan dan apresiasi atas kerja kerasnya. 

Pengakuan dan apresiasi ini sangat penting. Mau buktinya? Mayoritas anak-anak muda pasti memiliki akun media sosial, dan biasanya lebih dari satu. Pada akun media sosial, setiap orang akan berbagi soal kegiatannya, penampilannya, pekerjaannya dan apapun yang dikerjakannya. 

Mereka akan sangat senang apabila ada yang 'Like', 'Comment', 'Share', 'Follow', 'Subscribe' dan apapun itu jenis feedback-nya (meski tidak jarang ada feedback yang buruk). Intinya millennials ingin diapresiasi, ingin diakui.




Semakin diapresiasi, maka akan semakin berprestasi. Sebaliknya, bila seorang millenials tidak mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan potensinya atau tidak menerima apresiasi atas kinerjanya, maka besar kecenderungannya untuk dia melompat ke perusahaan lain (job-hopping).




Millennials: Generasi yang malas dan narsis?


That's all folks!
Demikianlah kita membuktikan bahwa stigma yang menyatakan generasi Y adalah generasi yang malas dan narsis itu tidak sepenuhnya benar, terutama di kalangan millennials yang aktif bekerja. Meski tidak menutup kemungkinan memang ada yang malas dan betul-betul narsis tingkat akut, namun mayoritas pendapat ini hanyalah sebuah stereotype yang terbentuk dari sudut pandang generasi yang lebih tua.

Pada akhirnya, hasil lah yang akan berbicara. Meskipun orang-orang menganggapmu malas dan narsis, kamu bisa membuktikan pada mereka bahwa mereka salah menilaimu. Buktikan dengan hasil, bukan kata-kata!

2 komentar


EmoticonEmoticon