Sabtu, 23 April 2016

Job Hopping pada Millenials: Negatif atau Positif?

Job Hopping pada Millenials: Negatif atau Positif?

Generasi Millennial adalah generasi pertama yang resmi dicap sebagai generasi Job Hopper. Apa itu Job-hop? Secara literal job adalah jabatan/pekerjaan dan hop adalah melompat (kata kerja). Job-hop bisa didefinisikan sebagai perilaku berpindah-pindah pekerjaan. Beberapa survey menunjukkan bahwa hampir 30% perusahaan akan kehilangan karyawan barunya (yang berusia Millennials) dalam tahun pertama. Survey lain menyebutkan rata-rata para millennials hanya bertahan 2 tahun di sebuah perusahaan.

Perilaku ini umumnya didorong oleh tren yang berkembang di kalangan para Millennials, di mana cara pandang mereka tentang dunia kerja sangat berbeda dari generasi X dan baby boomer. Millennials cenderung merasa sangat optimis dan dianggap penting, sehingga cenderung percaya bahwa potensi yang mereka miliki akan berkembang setiap kali mereka masuk perusahaan baru.


Perilaku job-hop ini tentu saja menimbulkan dampak positif dan negatif bagi para pelakunya. Kita mulai dari sisi negatifnya:

Negatif: Perilaku Job-hop menunjukkan kurangnya loyalitas suatu individu

Bila HR-Manager dari perusahaan yang kamu lamar melihat track record di CV-mu yang penuh dengan sejarah job-hop dalam beberapa tahun terakhir, mungkin dia akan berpikir dua kali untuk merekrutmu. Karena dia jadi berpikir: ‘untuk apa saya merekrut orang yang sebentar lagi akan pindah lagi ke perusahaan lain?’
Kamu harus tahu, bahwa perusahaan juga akan merasa dirugikan bila karyawannya keluar masuk. Butuh biaya yang tidak sedikit setiap kali ada pergantian karyawan, karena setiap karyawan baru perlu mengikuti bermacam pelatihan dan program-program pengembangan untuk menyesuaikan kinerjanya dengan tuntutan perusahaan. Jadi, bila kamu berada di posisi seperti ini, bersiaplah untuk memberi penjelasan sebaik mungkin tentang mengapa kamu melakukan perilaku job-hop itu di masa lalu.

Job Hopping pada Millenials: Negatif atau Positif?


Negatif: Perilaku Job-hop mengakibatkan kehilangan peluang

Kebanyakan Millennials melakukan job-hop dengan harapan untuk bisa naik ke jenjang karir/jabatan yang lebih tinggi tanpa menyadari bahwa dengan meninggalkan sebuah pekerjaan/jabatan maka mereka juga kehilangan peluang untuk dipromosikan atas kinerja yang sudah mereka berikan sebelumnya.
Faktanya, hampir semua posisi pemimpin-pemimpin di perusahaan diisi oleh orang-orang yang sudah bekerja di perusahaan itu selama bertahun-tahun, bukan oleh karyawan yang baru saja pindah dari perusahaan lain dan diterima dengan program percobaan selama beberapa bulan. 

 
Sebaiknya, setelah beberapa kali melompat hingga akhirnya kamu menemukan perusahaan yang cukup cocok untukmu, tahanlah segala macam godaan dan dorongan untuk pindah ke perusahaan lain, bertahanlah dan arahkan hatimu untuk menemukan bahwa ‘sesuatu yang lebih baik’ itu ada di perusahaanmu saat ini.

Job Hopping pada Millenials: Negatif atau Positif?

Positif: Tergantung pada usiamu...

Kamu bisa saja lolos dari pandangan negatif tentang sejarah job-hop di CV-mu karena umurmu. Perusahaan pada umumnya tidak mempermasalahkan sejarah job-hop pada CV seorang calon karyawan yang masih muda atau fresh graduated. Mereka memandang dan menganggap wajar bila kamu berpindah-pindah pekerjaan karena masih mencari perusahaan yang cocok denganmu. Tapi bila usiamu sudah di atas 30 tahun, maka perilaku job-hop mu sudah tidak imut dan lugu lagi. Karena pada usia ini, lazimnya kamu sudah harus settle atau menuju ke sana.

...dan bidang pekerjaanmu.

Di beberapa bidang pekerjaan seperti IT, retail dan pabrik, perilaku job-hop lebih bisa diterima dibanding pada bidang pekerjaan lainnya. Banyak perusahaan-perusahaan di bidang ini bersaing dengan taktik merekrut yang sangat agresif, pembajakan dari tingkat karyawan hingga manajer, penetapan nilai gaji dan benefit yang kompetitif, sehingga peristiwa berpindahnya para karyawan ke perusahaan kompetitor karena tawaran-tawaran yang lebih menggiurkan sudah biasa terjadi.
Jadi bila saat diwawancarai kamu ditanyakan soal sejarah job-hopping itu, kamu tidak perlu takut. Jelaskan saja dengan baik bahwa perilaku seperti itu memang sudah menjadi budaya di lingkungan bidang pekerjaan itu, namun kamu ingin meyakinkan perusahaan yang baru ini bahwa kamu ingin mengakhiri sejarah job-hopping mu dan menetap di perusahaan ini.

Job Hopping pada Millenials: Negatif atau Positif?

Positif: Perilaku Job-Hopping menambah dan memperluas skill dan pengalamanmu.

Pengalaman berpindah-pindah perusahaan memberimu salah satu keuntungan di bidang pengembangan dirimu. Karena beda perusahaan, beda cara kerjanya, beda budaya dan beda kemampuan yang dibutuhkan. Dengan memasuki sebuah perusahaan baru, kamu pasti akan diberi pelatihan yang berkesinambungan sehingga membuat kamu menjadi semakin ahli di bidang pekerjaan tersebut. Saat kamu beranjak ke perusahaan lain, skill dan kemampuan itu tidak hilang. Jadi semakin banyak perusahaan pernah kamu masuki, semakin banyak skill dan pengalaman yang kamu dapatkan.

Jadi, bisa kita simpulkan secara berimbang, bahwa perilaku Job-hop yang selama ini banyak diagung-agungkan oleh para Millennials ternyata juga memiliki dampak negatif, tidak hanya positif saja. Perilaku Job-hop ini tidak menjadi masalah atau bahkan bisa sangat membantu membangun pondasi awal bila dilakukan pada tahun-tahun pertama setelah menyelesaikan pendidikan. Namun perilaku ini diharapkan untuk dihentikan saat sudah memasuki usia 30 di mana kamu akan dituntut untuk bisa menetap dan berkembang bersama perusahaan yang sudah kamu pilih sebagai pelabuhan terakhir.

Terimakasih sudah membaca sampai sejauh ini. Sampai jumpa di artikel berikutnya.
- Adios!


EmoticonEmoticon