Kamis, 31 Agustus 2017

Kenapa Move On Itu Susah?

Kenapa move on itu susah? Ini adalah pertanyaan paling legendaris dalam satu dekade terakhir ini, membuat frase move on menjadi begitu umum di kalangan anak muda maupun yang masih ngaku-ngaku muda. Ya! Karena seperti lagu lawas Peterpan, ‘Tak ada yang abadi…’, maka sebuah hubungan yang awalnya indah bisa berakhir juga. Bila kamu tidak menganut ‘jatah mantan’, berarti move on adalah pilihan utama. Tapi, apa benar move on itu susah?


Karena ‘putus’ itu menyakitkan?


Setiap hubungan yang berakhir ‘tidak baik-baik’ tentunya akan menyakitkan. Semakin jauh kamu terlibat dalam hubungan tersebut (baik pacaran maupun pernikahan), semakin menyakitkan pula efeknya saat hubungan tersebut harus kandas.

Menjalin hubungan itu seperti menanam saham di sebuah perusahaan start-up yang belum jelas berhasil atau tidaknya. Siapapun yang memulai sebuah hubungan, seharusnya sudah memahami resiko yang dihadapinya.

kenapa move on itu susah

Lantas, kenapa move on itu susah?


Seperti yang tadi kita pahami bersama, saat menjalin hubungan, kamu sebenarnya sedang berinvestasi pada hubungan tersebut. Bila pada perusahaan kamu menginvestasikan uang, di dalam sebuah hubungan kamu menginvestasikan perasaan emosionalmu. Jadi pada saat hubungan tersebut kandas, situasi yang kamu hadapi persis seperti perusahaan yang kamu investasikan bangkrut dan nilai sahammu terjun bebas. 

“Ancur!” -Iwan Fals #nowplaying

Kehilangan sesuatu atau seseorang yang kepadanya telah kamu investasikan perasaanmu akan semakin sangat menyakitkan bila kamu alami berulang kali. Terutama untuk mereka yang terlebih dulu mengalami kehilangan orang-orang yang dicintainya (mis: meninggalnya ayah atau ibu). Jadi pada saat ‘putus’ rasa traumatik kehilangan itu mencuat kembali dan mengakibatkan kesedihan yang lebih menyakitkan dari pada seharusnya.


Insekyuritas di masa kecil.


Menurut Om Sigmund Freud, dalam teorinya (Psikoanalisa), pengalaman masa kecil setiap individu cenderung memiliki pengaruh terhadap pembentukan karakter dan kepribadian individu tersebut di masa dewasa.

Maksudnya begini—ehm—kalau kamu dibesarkan di keluarga yang sangat menyayangimu dan memperlakukanmu dengan kasih sayang yang cukup, kamu akan tumbuh sebagai pribadi yang solid, ‘secure’ dan merasa dicintai.

Jika suatu waktu kamu mengalami hal yang menyakitkan, seperti peristiwa ‘putus’ dari pasangan, kamu tidak akan mengalami breakdown yang berlebihan. Individu yang ‘secure’ akan cenderung lebih mudah move on karena sejak kecil pribadinya sudah solid dan yakin bahwa banyak orang lain yang mencintainya.

Sebaliknya, bila kamu dibesarkan dalam keluarga yang kurang menyayangimu, kamu akan tumbuh sebagai pribadi yang ‘insecure’. Saat kamu menjalin hubungan dengan seseorang, kamu akan sangat bahagia karena ada yang mencintaimu, namun saat hubungan tersebut berakhir, itu akan menjadi mimpi buruk yang paling horor bagimu.




Kamu sudah memasukkannya ke agenda masa depanmu.


Ini juga merupakan salah satu faktor penyebab banyak orang susah move on. Kamu mungkin sudah memasukkan pasangan—ehm, mantan pasanganmu—ke dalam rencana masa depanmu. Membayangkan dia menjadi orang pertama yang kamu sapa saat bangun pagi, menyiapkan makanan bersama, berbulan madu, memiliki dan membesarkan anak bersama dan—ah, sudahlah!

Dengan perginya si dia, kehilanganmu jauh lebih besar dari pada hanya sekedar kehilangan pasangan. Kamu merasa telah kehilangan orientasi masa depanmu, kamu kehilangan tujuanmu untuk bangun tidur setiap harinya, kamu kehilangan…

Sudah jatuh, tertimpa tangga, digigit anjing, kena rabies, disuntik, eh jarumnya patah!


Dalam beberapa kasus gagal move on, banyak orang menyadari bahwa ‘putus’ terburuk itu adalah ‘putus’ di saat masalah datang bertubi-tubi. Aku pernah mendengar kisah di mana seseorang mengalami kebangkrutan mendadak karena musibah, saat yang bersamaan juga anaknya meninggal dunia, seperti tidak cukup, dia pun terkena penyakit yang sangat parah. Tapi yang paling menyakitkan, di saat seperti itulah isterinya meninggalkannya. Imagine that!

Hal-hal seperti ini memang terjadi di luar kendali, orang yang mengalami peristiwa ini seharusnya mengalami mental breakdown yang parah—bahkan tidak heran bila dia akhirnya bunuh diri. Tapi, belum tentu demikian. Coba deh, kamu google, namanya Ayub (Job).

Ketakutan akan masa depan.


Alasan terakhir ini juga cukup banyak, terutama di kalangan perempuan. Biasanya karena mereka sudah menjalin hubungan yang cukup panjang. Perempuan cenderung merasa jauh lebih insekyur saat harus putus di usia 30an dibandingkan usia 25. 

Karena bagi kebanyakan perempuan, menikah sudah menjadi tujuan utama kehidupan mereka. Hal ini dikarenakan tuntutan masyarakat dan budaya kita yang membuat perempuan menjadi tertekan. Padahal, perempuan juga bisa mengejar karir dan memaksimalkan potensinya, tidak seharusnya perempuan hanya jadi objek pernikahan yang mematok usia ideal dan membuat mereka yang usianya lebih tua menjadi insekyur karena ini.

Kesimpulan.


Setiap orang yang menjalin hubungan semestinya juga memahami konsekuensi dari hubungan tersebut. SEMUA hubungan akan berakhir. Entah itu dipisahkan oleh konflik internal, kehadiran orang ketiga, perceraian atau (pada akhirnya) maut. Dengan memahami kenyataan ini, kita bisa meminimalisir tekanan yang kita terima saat musibah itu datang dan tidak lagi menanyakan kenapa move on itu susah---karena memang, move on itu susah. Menerima kenyataan dan melepaskan pengampunan adalah kuncinya.


EmoticonEmoticon