Selasa, 26 April 2016

Kenapa Lulusan Perguruan Tinggi Semakin Sulit Dapat Pekerjaan? Part II


Hey! Jumpa lagi nih...
Selamat datang kembali, di artikel ini kita akan lanjutkan pembahasan dari artikel Kenapa Lulusan Perguruan Tinggi Semakin Sulit Dapat Pekerjaan? Part I.
Let’s rock!

Kenapa Lulusan Perguruan Tinggi Semakin Sulit Dapat Pekerjaan?

4. Kurangnya network atau koneksi
Bila kamu adalah seorang fresh graduate, belum punya pengalaman kerja, IPK pas-pasan, bukan berarti karirmu sudah kandas, bro! Masih ada senjata lain selain IPK dan pengalaman, yaitu koneksi! 

Bukan rahasia lagi, di mana-mana kita melihat tidak sedikit orang yang sebenarnya kurang kompeten atau bahkan tidak memenuhi kriteria untuk menempati sebuah jabatan, namun ternyata mereka berhasil mendapatkan pekerjaan tersebut karena adanya koneksi mereka (atau orangtua mereka) dengan ‘orang dalam’ perusahaan.


Di sini aku bukan mau menyarankan kamu untuk main backdoor, tapi kita perlu memahami esensi dari koneksi ini. Bila mereka yang ‘curang’ saja bisa memakai cara ini, kenapa kita yang jujur tidak juga memanfaatkannya? Mulailah memahami nilai dari sebuah koneksi dan mulailah membangun jaringan (network) koneksimu. Karena di era sekarang ini, bila kamu tidak networking, maka kamu not working!

Sebagai ilustrasi, kita asumsikan kamu telah menjalin pertemanan yang baik dengan kakak-kakak seniormu sewaktu kuliah dulu, begitu juga dengan teman-teman seangkatan dan juniormu. Pada saat kamu sudah lulus, kamu bisa mengontak kakak-kakak seniormu yang pastinya sudah lebih dulu terjun ke dunia kerja, mereka mungkin saja sudah menempati posisi-posisi strategis di sana. Bila hubunganmu baik dengan mereka, tentu saja mereka dengan senang hati membantu junior se-almamaternya untuk masuk ke perusahaan tempatnya bekerja.

Begitu juga hubunganmu dengan teman-teman seangkatan bahkan juniormu. Bila kamu berhubungan baik dengan mereka, kamu bisa mendapat update dari mereka sewaktu-waktu di perusahaan mereka terdapat posisi kosong yang menjadi peluang untukmu naik ke jenjang karir yang lebih tinggi. 

Luar biasa kan? Tapi ingat, kamu juga harus menjaga nama baik teman-temanmu yang merekomendasikanmu. Jangan sampai ternyata saat kamu sudah menempati jabatan itu, kamu memberikan kinerja yang buruk. Ini akan mengecewakan dan berdampak buruk pada reputasi mereka dan pandangan mereka terhadapmu.

Kenapa Lulusan Perguruan Tinggi Semakin Sulit Dapat Pekerjaan?

5. Surat lamaran yang buruk

Serius! Banyak orang yang menyepelekan surat lamaran dan CV/resume mereka. Di sini aku berbicara sebagai seorang praktisi psikologi, saat kami sedang menangani proses-proses rekrutmen, ada banyak sekali kami temui kesalahan-kesalahan dalam pembuatan surat lamaran dan CV. Kamu mungkin nggak akan percaya betapa konyolnya kesalahan-kesalahan itu.

Kenapa Lulusan Perguruan Tinggi Semakin Sulit Dapat Pekerjaan?

Ada pelamar yang berusaha tampil keren dan membuat surat lamarannya dalam bahasa Inggris. Tapi sayangnya, dia tidak paham bahwa Google Translate tidak bisa menghasilkan gramatika yang baik. Alhasil surat lamarannya betul-betul acak kadut dan membuat siapa saja yang membacanya tertawa. Selain itu, banyak yang juga kesalahan pengetikan (typo) dan surat lamaran yang kelihatannya copy-paste dari sumber internet atau sengaja dicetak banyak untuk diantarkan ke banyak perusahaan sekaligus, dari mana kami tahu? Karena dia lupa mengganti nama perusahaannya!

Saranku, sebagai orang yang telah berpengalaman melemparkan ribuan berkas lamaran yang gagal dalam tahap awal rekrutmen, berikan perhatian lebih dalam membuat surat lamaran dan CV-mu. Karena di tahap awal rekrutmen ini, senyumanmu, postur tubuhmu dan kemampuan komunikasimu tidak akan menolongmu, hanya tulusanmu yang akan merepresentasikan dirimu. Jadi buatlah sebuah berkas lamaran yang bagus, rapi dan berkarakter.

6. Tidak Memiliki Persiapan Menghadapi Wawancara

Saat kamu mendapat panggilan untuk wawancara, itu adalah kabar baik, artinya kamu sudah melewati tahap awal. Perusahaan tertarik melihat berkasmu, dan mereka ingin mengenalmu lebih dekat, apakah kamu benar-benar orang yang mereka butuhkan.  

Sejak dari zaman prasejarah (di dunia kerja), wawancara selalu menjadi momok bagi banyak pelamar kerja. Ya! Pewawancara memang akan menanyai kamu dengan pertanyaan-pertanyaan yang menonjok dengan telak di wajahmu. ‘Kenapa kami perlu menerima kamu?’, ‘Apa yang bisa kamu berikan untuk perusahaan?’, ‘Ceritakan kepada kami, siapa dirimu?’ (ini pertanyaan paling menjebak, dan biasanya akan diikuti dengan...) ‘Apa kelemahan terbesarmu?’
Kenapa Lulusan Perguruan Tinggi Semakin Sulit Dapat Pekerjaan?
Sucker Punch, huh?
Bila kamu tidak mau keluar dari ruangan wawancara dengan babak belur, maka sebaiknya kamu benar-benar mempersiapkan dirimu dengan matang. Mbah Google adalah tempatmu mengadu di sini, seluruh jawaban-jawaban terbaik untuk pertanyaan-pertanyaan seperti tadi bisa kamu temukan di sana. Bukan cuma pertanyaan-pertanyaan itu, kamu juga HARUS melakukan riset tentang perusahaan yang ingin kamu lamar! Kapan perusahaan itu berdiri, siapa tokoh-tokohnya, apa saja produknya, bagaimana kiprahnya di masyarakat, siapa saja kompetitornya? Pokoknya kamu harus siap sedia, pewawancara ingin tahu seberapa besar niatmu terhadap perusahaan ini, jadi sekali lagi, lakukan riset! Jangan manja!
Pada saat kamu diundang masuk ke ruang wawancara, perhatikan caramu berjabat tangan! Jangan menjabat tangan dengan lemas atau terlalu kuat, kamu bukan mau adu panco! Berjabat tangan yang kokoh dan solid, saat kamu menjabat tangan si pewawancara, jangan melihat tangannya! Lihat matanya, tersenyumlah dengan semangat dan bersahabat. Tunjukkan kamu antusias, ini akan membuat si pewawancara lebih aware terhadap kamu.

Pada saat pewawancara sudah hampir selesai, dia akan bertanya: Apa anda punya pertanyaan? Pastikan kamu menjawab ya! Selalu tanyakan sesuatu, ini akan menunjukkan bahwa kamu benar-benar tertarik pada pekerjaan itu. Tanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti jenis-jenis skill atau kualifikasi apa yang dibutuhkan perusahaan tersebut, bagaimana jenjang karirnya, peluang apa saja yang ditawarkan, paket benefit yang dijanjikan perusahaan, insentif, bonus dan lain sebagainya. Ingat, kamu juga berhak mewawancarai perusahaan!


7. Tidak Memiliki Senjata Rahasia

Untuk mencegah artikel ini terlalu panjang, kita lanjutkan di sini ya: 



EmoticonEmoticon